Dewi Sinta (2)

Figur Wayang Dewi Sinta (2)

Dewi Sinta dalam bentuk wayangkulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Dewi Sinta (2)

Melalui ujung mata bajak, Prabu Janaka menemukan seorang bayi, yang kemudian diangkat anak dan diberi nama Sinta. Setelah dewasa Sinta dipinang oleh Rama, putra Prabu Dasarata raja Ayodya, melalui sebuah Sayembara yang diadakan oleh Prabu Janaka. Walaupun Sinta adalah anak raja Alengka yang diangkat anak oleh raja Mantili dan kemudian menjadi menantu raja Ayodya, hidup Sinta tidak pernah lepas dari kesengsaraan.

Ketika bayi ia di buang di sungai, kemudian setelah dewasa ia hidup dalam pembuangan di hutan Dandaka mendampingi Rama suaminya dan Laskmana adik Rama. Di hutan Dandaka ia diculik oleh Dasamuka yang adalah ayah Sinta yang sesungguhnya. Namun dalam hal ini Sinta tidak tahu bahwa yang menculik adalah ayahnya. Demikian juga Dasamuka tidak tahu bahwa yang diculik adalah anak kandungnya. Rahasia ini disimpan rapat-rapat oleh Wibisana dan Dewi Tari.
Kisah penculikan ini berawal saat Sinta melihat seekor kidang lucu dan bercahaya laksana emas. Ia memohon kepada Rama suaminya untuk menangkap kidang tersebut. Namun ternyata tidak mudah. Seekor kidang yang kelihatan jinak tersebut selalu gagal ditangkap Rama, hingga tidak disadarinya Rama semakin jauh meninggalkan Sinta dan Laksmana. Lama ditunggu dalam suasana cemas Rama tak kunjung datang. Tiba-tiba terdengarlah jerit melengking yang memilukan. Sinta dan Laksmana saling pandang, di dalam hati mereka ada perasaan yang sama. Sama-sama mengkhawatirkan keselamatan Rama. Maka kemudian Sinta menyuruh Laskmana untuk menyusul Rama. Laksmana kebingungan. Jika ia menyusul Rama, lalu bagaimana dengan keselamatan Sinta? Dalam suasana yang mencekam seperti ini tidakkah Sinta yang seharusnya mendapat perlindungan?  
Dikarenakan Laksmana tidak segera menyusul Rama, Sinta mempunyai prasangka bahwa Laksmana sengaja membiarkan Rama celaka. Maka kemudian keluarah kata-kata dari mulut Sinta: “Apakah jika kakanda Rama mati, aku bersedia menjadi istrimu?” Tuduhan Sinta atas dirinya itu sungguh sangat menyakitkan dan tak berdasar. Untuk membuktikan bahwa di hati Laksmana tidak terbersit sedikit pun niat untuk memiliki Sinta maka Laksmana menghilangkan ke-lelaki-annya dan berjanji akan hidup wadat. Selanjutnya Laksmana meninggalkan Sinta sendirian, namun sebelumnya ia menggoreskan rajah disekeliling Sinta.
Sepeninggal Laksmana Sinta keluar dari goresan rajah yang mengelilinginya karena terpancing rasa belaskasihan dari seorang brahmana tua yang kehausan dan kelaparan. Ternyata brahmana tua tersebut merupakan penjelmaan Dasamuka yang telah menyusun strategi untuk menculik Sinta.
Bermula dari pengaduan Sarpakenaka adiknya, yang dipotong hidungnya dalam perang tanding melawan Laksmana, Dasamuka tahu bahwa di tengah hutan Dandaka ada wanita yang sangat cantik. Menurut Sarpakenaka bahwa wanita itu pantas menjadi istri kakanda Dasamuka. Benarlah apa yang dikatakan Sarpakenaka, bahwa wanita itu sangat memikat. Dasamuka bernafsu untuk menculiknya. Dibantu oleh Kala Marica yang menjelma menjadi     seekor kidang kencana, untuk memancing Rama dan Laksmana meninggalkan Sinta, Dasamuka berhasil dengan mudah menculik Sinta.
Pada saat Sinta dibawa terbang Dasamuka, seekor burung Jatayu berniat menolong Sinta. Maka dengan sayapnya yang besar dan perkasa Jatayu berhasil menjatuhkan Dasamuka dan merebut Sinta. Dalam sekejap Sinta telah berpindah tangan, dari tangan Dasamuka berpindah ke sayap Jatayu. Dikarenakan secara psikologi Sinta mendapat goncangan hebat dan beruntun, maka jiwanya pun tergoncang. Seperti yang di alami Laksmana, niat baik Jatayu justru menimbulkan prasangka buruk di hati Sinta, sehingga keluarlah kata-kata yang menyakitkan dari mulit Sinta. “Aku tidak mau menjadi isterinya seorang raksasa apalagi menjadi isterinya seekor burung.”
Burung Jatayu yang sedang membawa Sinta tergoncang hatinya karena kata-kata Sinta yang merendahkan dirinya. Akibatnya ia lengah, sayapnya berhasil ditebas dengan pedang Mentawa, dan Sinta pun berhasil direbut kembali oleh Dasamuka, untuk dibawa terbang ke negara Alengka.
herjaka HS

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dewi Sinta (2)"

Posting Komentar