Figur Wayang Sukrasana


Sukrasana dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Sukrasana

“Akang aku elu akang” demikian kata yang sering diucapkan dengan logat cedal oleh Sukrasana kepada Sumantri kakaknya, yang artinya “kakang aku ikut kakang.” Kata tersebut menggambarkan bahwa Sukrasanan tidak mau berpisah kepada Kakaknya. Ke mana pun Sumantri pergi, Sukrasana selalu ingin ikut.

Sukrasana Sumantri adalah dua bersaudara anak Begawan Suwandageni dari pertapaan Girisekar. Kedua kakak beradik satu ayah dan satu ibu itu mempunyai ciri-ciri yang berlawanan. Secara fisik, Sukrasana berbadan pendek dan cebol, berwajah raksasa yang jelek dan menakutkan. Sedangkan Sumantri berwajah tampan dan gagah. Namun walaupun wajahnya buruk, namun Sukrasana sangat sakti, baik budi pekertinya dan penuh welas-asih, tidak seperti Sumantri yang merasa dirinya sakti dan tampan.

Pada suatu pagi, ketika Sukrasana bangun, seperti biasanya, pertama-tama yang ia cari adalah Sumantri. Namun pagi itu ia tidak mendapatkannya. Maka kemudian dicarilah sang kakak yang amat dicinta itu. Begawan Suwandageni tidak sampai hati melihat Sukrasana yang kebingungan mencari kakaknya, maka kemudian dikatakanlah bahwa kakaknya pergi meninggalkan Sukrasana, untuk mengabdikan diri ke kerajaan Maespati.

“Akang aku elu akang” Sukrasana menyusul kakaknya ke Kerajaan Maespati. Di sana Sukrasana mendapatkan Sumantri yang sedang bersedih karena telah melakukan kesalahan terhadap raja Maespati dan dipecat dari jabatan prajurit. Sang Raja Maespati Prabu Arjuna Sasrabahu bersabda bahwa satu-satunya jalan agar Sumantri dapat kembali menjadi prajurit, yaitu dengan memindahkan Taman Sriwedari di Kahyangan Utarasegara ke Maespati. Tugas tersebut teramat berat, Sumantri merasa kesulitan untuk melakukannya.

Dalam keadaan putusasa, Sukrasana datang dan siap menolong Sumantri, dengan sebuah permintaan agar Sumantri kakaknya tidak lagi meninggalkan Sukrasana. Dan Sumantri menyanggupinya.

Dengan kesaktian yang dimiliki Sukrasana dan bantuan para dewa, Taman Sriwedari dapat berpindah tempat, dari Kahyangan Utarasegara ke Maespati, tanpa satu pun daun yang jatuh.

Sumantri sangat senang, demikian pula dengan Prabu Arjuna Sasrabahu dan Dewi Citrawati permaisuri raja. Taman tersebut kemudian dijadikan tempat bersenang-senang oleh permaisuri raja dan para putri-putri kerajaan.

Pada saat mereka bercengkrama di taman, tiba-tiba mereka pada menjerit ketakutan dan berhamburan keluar taman, sambil berterik “Ada hantu”

Sang Raja memerintahkan agar Sumantri mengusir hantu itu. Sumantri bergegas menuju taman dengan membawa senjata panah yang siap dibidikan, untuk mengusir hantu yang telah membuat onar di Taman Sriwedari.

Sesampaianya di taman ia menjumpai yang dimaksud dengan hantu adalah Sukrasana adiknya.

“akang aku elu akang”

herjaka HS
 
Top
Assalamu'alaikum wr,wb. Progam Pelatihan Ilmu Gendam Saat Ini Bisa Di Ikuti Secara Jarak jauh Siapapun Anda Di Jamin Pasti Bisa