Aswatama

Figur Wayang Aswatama

Aswatama dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
Koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Aswatama

Aswatama lahir dari seorang Bidadari Wilotama yang sedang dikutuk dewa menjadi seekor kuda sembrani. Ia akan terlepas dari kutukan jika ada seorang laki-laki yang bersedia mengawininnya. Setelah beberapa tahun Bidadari Wilotama menjalani kutukan, bertemulah ia dengan pemuda tampan bernama Kumbayana di pinggir pantai. Pada waktu itu Kumbayana berniat menyeberangi samodra menuju tanah Jawa, namun apa daya ia tidak dapat terbang. Kuda Sembrani bersedia menyeberangkan Kumbayana ke tanah Jawa. Maka digendongnya Kumbayana dipunggung kuda untuk dibawa terbang melintasi samodra.

Sejak peristiwa itu, kuda sembrani mengandung. Inilah awal pelepasan dari sebuah kutukan. Bersamaan dengan kelahiran anak yang dikandung, kuda Sembrani tersebut lepas dari kutukan. Ia kembali kewujud semula, menjadi seorang bidadari yang cantik jelita. Kumbayana, ayah dari anak yang dilahirkan, tak kuasa mencegah Bidadari Wilotama istrinya, agar tidak kembali ke Kahyangan. Namun sebelum meninggalkan Kumbayana dan bayinya, bidadari Wilotama memberikan tusuk konde kepada Kumbayana sebagai tanda cinta.

Sepeninggal Bidadari Wilotama, Kumbayana memandangi anaknya yang masih bayi dengan seksama. Wajahnya tampan, tetapi rambutnya, seperti rambut kuda. Ia menamakan anaknya, Aswatama. Aswa adalah kuda dan tama atau utama berarti pilihan. Kumbayana yang kemudian terkenal dengan nama Durna, mengasuh Aswatama sendirian hingga dewasa. Durna sangat menyayangi Aswatama, demikian juga sebaliknya.

Durna yang kemudian diangkat menjadi guru besar istana Hastinapura, dengantugas utama mengajar para putra raja yaitu Kurawa dan kemenakan raja yaitu Pandawa, menjadikan Aswatama pun bergabung dengan para Kurawa. Jika ayahnya sangat dihormati oleh kedua belah pihak, tidak demikian dengan Aswatama. Keberadaan Aswatama dipandang sebelah mata.

Peristiwa yang sangat menyakitkan bagi Aswatama adalah ketika ia melaporkan kecurangan yang dilakukan oleh Prabu Salya pada perang Baratayuda. Dengan mata kepala sendiri, Aswatama yang pada waktu itu menjadi kernet kereta melihat Prabu Salya, yang menjadi kusir kereta, sengaja menarik kendali keras-keras, tepat ketika Adipati Karna sang senopati, melepaskan panah pusaka. Akibatnya senjata pamungkas Adipai Karna meleset dari leher Harjuna. Namun Prabu Duryudana tidak mempercayai laporannya. Malahan Aswatama diusir dari negara Hastina.

Oleh karenanya hingga perang Baratayuda usai, dan Duryudana pun telah gugur. Aswatama adalah salah satu sekutu Korawa yang masih hidup. Walaupun Aswatama tidak lagi membela sekutunya, namun karena Durna ayahnya gugur dalam perang besar Baratayuda, ia dendam kepada Pandawa yang telah membunuh ayah tercinta. Untuk membalas dendam itu, ia ‘melandak’, atau merangkak sembari membuat lobang di tanah, menyusup ke perkemahan Pandawa pada malam hari.

Dikarenakan mereka berbaring tidur dalam kelelahan yang amat sangat, Aswatama berhasil membunuh beberapa orang yaitu Dewi Srikandi, Banowati, Pancawala, termasuk Drestajumena orang yang telah membunuh Resi Durna ayahnya. Namung malang bagi Aswatama, ketika ia akan membunuh Parikesit, bayi Abimanyu yang kelak akan menjadi raja, tiba-tiba bayi itu bangun dan dengan tidak sengaja kakinya menendang panah Pasopati yang ditaruh di ranjang bagian bawah kaki bayi. Panah Pasopati, panah pusaka milik Harjuna, mengenai tubuh Aswatama.

herjaka HS

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aswatama"

Poskan Komentar