Salya

Figur Wayang Salya

Prabu Salya, wayang kulit koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Salya

Jejaka muda yang bernama Narasoma adalah putra Prabu Mandrapati raja dari Negara Mandraraka atau Madras. Ia adalah sosok pemuda yang cerdas dan berilmu tinggi. Walaupun ia mempunyai watak suka pamer, rakyat Mandaraka memakluminya, karena memang pada diri Narasoma banyak hal yang dapat dipamerkan, termasuk juga ketampanannya. Ia diangkat menjadi putra mahkota dan disiapkan menjadi raja Negara Mandraraka. Selain Narasoma, Prabu Mandrapati mempunyai anak perempuan bernama Dewi Madrim. Narasoma sangat menyayangi adiknya, demikian juga Dewi Madrim sangat manja kepada kakaknya.
Pada suatu siang, ketika sedang dalam perjalanan bersama adiknya, Narasoma dicegat oleh seorang pandeta berjubah putih, bermuka buruk seperti raksasa. Pendeta tersebut mengaku bernama Bagaspati dari pertapaan Hargabelah dan berniat mengambil menantu Narasoma untuk dijodohkan kepada Dewi Setyawati putrinya. Hal tersebut dilakukuan oleh Bagaspati karena ciri-ciri yang ada pada Narasoma sesuai dengan ciri-ciri ksatria yang menemui putrinya di dalam mimpi. Narasoma menolaknya karena mempunyai anggapan bahwa putri Begawan Bagaspati buruk rupa seperti bapaknya.
Demi menuruti permintaan putri satu-satunya yang sangat dikasihi, Begawan Bagaspati terpaksa menggunakan cara paksa untuk membawa Narasoma ke hadapan putrinya. Narasoma mencoba melawan Bagaspati. Namun ternyata kesaktian Narasoma tidaklah banyak berarti berhadapan dengan Bagaspati. Dengan tidak membutuhkan waktu lama Bagaspati dapat menguasai sepenuhnya Narasoma, dan membawanya ke pertapaan Hargobelah.
Sesampainya di Hargobelah bersama dengan Setyawati adiknya, Narasoma dipertemukan dengan Dewi Setyawati. Tidak seperti yang dibayangkan Narasoma, ternyata Dewi Setyawati sangat cantik jelita. Narasoma jatuh hati pada pandangan pertama. Dewi Madrim adiknya mendesak agar Narasoma segera meminang Dewi Setyawati. Namun sayang, sifat sombong dan suka pamer yang dimiliki Narasoma menghalangi cintanya kepada Dewi Setyawati. Narasoma enggan untuk meneruskan cintanya karena malu mempunyai mertua yang buruk muka.
Dewi Setyawati bersedih, gara-gara orang tuanya yang berwajah raksasa, pujaan hatinya tidak mau meminang dirinya. Bagaspati mengetahui kesedihan putrinya. Oleh karenanya ia rela mengorbankan dirinya demi kebahagiaan putrinya terkasih. Maka diberikannya hidupnya dan sekaligus mantram sakti aji Candrabirawa kepada Narasoma asalkan Narasoma mau mensunting putrinya.
Pada saat mengakhiri hidupnya Bagaspati masih diperkenankan menyaksikan kebahagiaan putrinya di pelaminan berdampingan dengan pujaan hatinya Narasoma.
Narasoma memboyong Dewi Setyawati di negara Mandaraka. Setelah menjadi raja Narasoma memakai gelar Prabu Salya. Sebagai penghargaan kepada mertuanya yang rela mengorbankan dirinya dan memberikan aji Candrabirawa, Prabu Salya mengangkat Dewi Setyawati menjadi satu-satunya prameswari dan berjanji akan setia pada pasangannya sampai mati.
Pasangan Salya dan Setyawati dianugerahi lima anak yakni: Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati, Raden Burisrawa dan Raden Rukmarata.
herjaka HS

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Salya"

Poskan Komentar